Regulasi
OECD menerbitkan kerangka pelaporan aset kripto CARF

Pada 10 Oktober 2022, Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) menerbitkan kerangka pelaporan pajak aset kripto bernama Crypto-Asset Reporting Framework (CARF).
Kerangka yang disetujui OECD pada Agustus 2022 itu dirancang untuk mendukung pengumpulan dan pertukaran otomatis informasi mengenai transaksi aset kripto yang termasuk dalam cakupannya. Penerapannya tetap memerlukan aturan dan pengaturan pertukaran informasi di yurisdiksi peserta.
Alasan penyusunan CARF
CARF menjadi bagian dari laporan pajak Sekretaris Jenderal OECD yang akan dibahas dalam pertemuan menteri keuangan dan gubernur bank sentral G20 pada Oktober 2022. OECD mengembangkannya bersama negara-negara G20 di tengah pertumbuhan pesat industri kripto. Artikel saat itu menyebut kapitalisasi pasar kripto mencapai sekitar 3 triliun dolar AS pada 2021.
Selain pertumbuhan nilai pasar, OECD menyoroti pesatnya penggunaan aset kripto untuk berbagai keperluan investasi dan keuangan sebagai alasan penyusunan kerangka tersebut.
CARF juga memperhitungkan perkembangan standar global pencegahan pencucian uang dan pendanaan terorisme (AML/CFT) dari Financial Action Task Force (FATF). Tujuan pertukaran informasi pajak tetap berbeda dari pengawasan AML/CFT, meskipun prosedurnya dapat saling mendukung.
Penjelasan OECD menyoroti kriptografi dan teknologi buku besar terdistribusi yang memungkinkan aset kripto disimpan serta dipindahkan tanpa bank atau administrator pusat. Akibatnya, tidak selalu ada satu perantara yang memiliki gambaran lengkap mengenai transaksi dan kepemilikan aset tersebut.
Bank biasanya menjadi sumber informasi dalam sistem pelaporan pajak pihak ketiga. Di pasar kripto, sebagian peran itu beralih ke bursa dan penyedia dompet. Laporan membahas penyedia yang belum sepenuhnya tercakup oleh kewajiban pelaporan pajak atau hanya berada dalam pengawasan tertentu. Ini tidak berarti semua layanan kripto bebas dari seluruh peraturan.
CARF dimaksudkan untuk mengisi kesenjangan tersebut melalui pelaporan dan pertukaran informasi transaksi aset kripto dengan format yang seragam.
Mendefinisikan Aset Kripto
Pertanyaan utamanya ialah aset dan transaksi apa yang tercakup, siapa yang harus mengumpulkan serta melaporkan informasi, dan bagaimana kewajiban itu diterapkan.
Cakupannya meliputi berbagai aset kripto, termasuk stablecoin, instrumen keuangan yang ditokenisasi dan sebagian NFT, sepanjang memenuhi definisi serta tidak termasuk pengecualian.
Dokumen yang diterbitkan pada 10 Oktober 2022 menjelaskan cakupan aset yang dapat disimpan dan dipindahkan secara terdesentralisasi tanpa perantara keuangan tradisional, termasuk stablecoin, derivatif dalam bentuk aset kripto dan NFT tertentu.
Istilah “Crypto-Asset” juga dapat mencakup NFT yang mewakili hak atas barang koleksi, karya seni, permainan, properti fisik atau dokumen keuangan dan dapat dialihkan secara digital. Namun, penyebutan NFT saja tidak menentukan kewajiban pelaporan; kemampuan aset untuk dipakai sebagai pembayaran atau investasi perlu dinilai.
Selain menentukan aset yang tercakup, CARF menetapkan jenis perantara dan penyedia layanan yang wajib melapor. Penyedia yang secara komersial memfasilitasi pertukaran aset kripto untuk atau atas nama pelanggan dapat masuk dalam cakupan. Dengan demikian, kewajiban pelaporan ditentukan oleh fungsi layanan dan hubungan penyedia dengan yurisdiksi yang menerapkan aturan, bukan semata-mata nama bisnisnya.
Mengejar Transparansi Pajak
Artikel 2022 menilai bahwa cakupan pelaporan CARF dapat lebih luas dalam beberapa hal dibandingkan Common Reporting Standard (CRS) untuk lembaga keuangan tradisional. Menyiapkan prosedur, sistem data dan uji tuntasnya dapat memerlukan sumber daya besar bagi penyedia layanan kripto.
OECD menjelaskan bahwa CRS pada saat itu belum sepenuhnya mencakup aset kripto dan transaksi terkait. Kesenjangan tersebut berisiko dimanfaatkan untuk menghindari kewajiban pajak dan melemahkan kemajuan transparansi. CARF disusun untuk mengatasinya.
Menurut OECD, cakupan aset dan lembaga yang wajib melapor berdasarkan CRS saat itu belum memberi otoritas pajak informasi yang memadai mengenai transaksi dan kepemilikan aset kripto yang relevan bagi perpajakan.
Sekretaris Jenderal OECD Mathias Cormann menyatakan bahwa CARF dan perubahan CRS akan membantu menjaga sistem transparansi pajak tetap mutakhir dan efektif; demikian penjelasan Cormann mengenai tujuan reformasi tersebut.
Produk pembayaran baru, termasuk produk berbasis kripto, uang elektronik dan mata uang digital bank sentral (CBDC), dapat menyediakan fungsi penyimpanan nilai dan pembayaran yang menyerupai rekening bank. Sebagian penerbitnya belum tercakup oleh CRS pada saat pembahasan tersebut.
Perubahan CRS yang disetujui pada 2022 dimaksudkan untuk mencakup CBDC dan produk uang elektronik tertentu, serta memperjelas cakupan investasi kripto tidak langsung melalui sarana investasi dan derivatif. Perubahan standar internasional tidak dengan sendirinya memberlakukan kewajiban yang sama secara serentak di semua negara.
Seperti CRS, CARF memuat prosedur uji tuntas untuk mengidentifikasi pelanggan individu, pelanggan berbentuk entitas, pihak yang mengendalikan entitas tertentu dan yurisdiksi domisili pajak mereka.
Mengintegrasikan ke dalam Undang-Undang Nasional
Kewajiban pelaporan bergantung pada hubungan penyedia dengan yurisdiksi yang mengadopsi CARF, bukan sekadar aturan bahwa setiap perusahaan harus melapor di semua negara tempatnya berbisnis.
Hubungan tersebut dapat berupa domisili pajak, pembentukan berdasarkan hukum setempat disertai status hukum atau kewajiban pelaporan pajak yang relevan, tempat pengelolaan, tempat usaha tetap, atau pelaksanaan transaksi melalui cabang di yurisdiksi itu. CARF juga memuat urutan prioritas untuk menghindari pelaporan berganda ketika penyedia terkait dengan lebih dari satu yurisdiksi.
Transaksi yang dicakup meliputi pertukaran antara aset kripto dan mata uang resmi, pertukaran antaraset kripto serta transfer, termasuk pembayaran ritel yang memenuhi kriteria pelaporan.
Negara peserta perlu memasukkan ketentuan yang relevan ke dalam hukum nasional dan menyiapkan mekanisme pertukaran informasi. Kerangka OECD tidak otomatis memberi setiap negara kewenangan baru tanpa langkah penerapan tersebut.
Untuk bursa atau protokol keuangan terdesentralisasi, kepemilikan bukan satu-satunya pertimbangan. Pihak yang menjalankan layanan dan memiliki kendali atau pengaruh yang cukup untuk melaksanakan kewajiban uji tuntas serta pelaporan dapat tercakup; label terdesentralisasi saja tidak menentukan hasilnya.
Ketentuan pembayaran ritel menyangkut penyedia yang memproses pembayaran aset kripto atas nama pedagang. Kewajiban terkait pelanggan pedagang bergantung pada kriteria transaksi dan identifikasi yang berlaku, bukan berarti setiap pembayaran kecil otomatis diperlakukan sama.
Rencana penerapan lebih luas pada 2022
Pada Oktober 2022, OECD menyatakan akan melanjutkan penyusunan instrumen hukum dan operasional untuk pertukaran informasi internasional, mendorong penerapan yang efektif serta menentukan jadwal awal pertukaran CARF.
OECD juga merencanakan pedoman penerapan yang konsisten, termasuk definisi aset yang relevan, penilaian apakah aset dapat digunakan untuk pembayaran atau investasi, serta perhatian terhadap perkembangan keuangan terdesentralisasi.
Artikel saat itu memperkirakan bahwa sebagian layanan bursa dan dompet dapat menghadapi pengawasan tambahan. Status terdaftar atau tunduk pada satu jenis aturan tidak selalu berarti layanan telah memenuhi seluruh kewajiban pelaporan pajak yang baru.
Pada saat artikel diterbitkan pada 2022, dampak CARF terhadap Amerika Serikat belum jelas. Negara itu sudah memiliki kewajiban pelaporan informasi, dan Infrastructure Investment and Jobs Act (IIJA) memperluas ketentuan terkait aset digital. Peraturan terperinci dari Departemen Keuangan masih dinantikan saat itu; ini merupakan konteks historis, bukan uraian kewajiban AS yang berlaku sekarang.












